Kamis, 11 Oktober 2012

Sejarah Korupsi di Indonesia

 

Tarian Koruptor Korupsi di Indonesia sudah ‘membudaya’ sejak dulu, sebelum dan sesudah kemerdekaan, di era Orde Lama, Orde Baru, berlanjut hingga era Reformasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas korupsi, namun hasilnya masih jauh panggang dari api.
Sejarawan di Indonesia umumnya kurang tertarik memfokuskan kajiannya pada sejarah ekonomi, khususnya seputar korupsi yang berkaitan dengan kekuasaan yang dilakukan oleh para bangsawan kerajaan, kesultanan, pegawai Belanda (Amtenaren dan Binenland Bestuur) maupun pemerintah Hindia Belanda sendiri. Sejarawan lebih tertarik pada pengkajian sejarah politik dan sosial, padahal dampak yang ditimbulkan dari aspek sejarah ekonomi itu, khususnya dalam “budaya korupsi” yang sudah mendarah daging mampu mempengaruhi bahkan merubah peta perpolitikan, baik dalam skala lokal yaitu lingkup kerajaan yang bersangkutan maupun skala besar yaitu sistem dan pola pemerintahan di Nusantara ini. Sistem dan pola itu dengan kuat mengajarkan “perilaku curang, culas, uncivilian, amoral, oportunis dan lain-lain” dan banyak menimbulkan tragedi yang teramat dahsyat.

Era Sebelum Indonesia Merdeka
Sejarah sebelum Indonesia merdeka sudah diwarnai oleh “budaya-tradisi korupsi” yang tiada henti karena didorong oleh motif kekuasaan, kekayaan dan wanita. Kita dapat menyirnak bagaimana tradisi korupsi berjalin berkelin dan dengan perebutan kekusaan di Kerajaan Singosari (sampai tujuh keturunan saling membalas dendam berebut kekusaan: Anusopati-Tohjoyo-Ranggawuni-Mahesa Wongateleng dan seterusnya), Majapahit (pemberontakan Kuti, Narnbi, Suro dan lain-lain), Demak (Joko Tingkir dengan Haryo Penangsang), Banten (Sultan Haji merebut tahta dari ayahnya, Sultan Ageng Tirtoyoso), perlawanan rakyat terhadap Belanda dan seterusnya sampai terjadfnya beberapa kali peralihan kekuasaan di Nusantara telah mewarnai Sejarah Korupsi dan Kekuasaan di Indonesia.
Umumnya para Sejarawan Indonesia belum mengkaji sebab ekonomi mengapa mereka saling berebut kekuasaan. Secara politik memang telah lebih luas dibahas, namun motif ekonomi – memperkaya pribadi dan keluarga diantara kaum bangsawan – belum nampak di permukaan “Wajah Sejarah Indonesia”.
Sebenarnya kehancuran kerajaan-kerajaan besar (Sriwijaya, Majapahit dan Mataram) adalah karena perilaku korup dari sebagian besar para bangsawannya. Sriwijaya diketahui berakhir karena tidak adanya pengganti atau penerus kerajaan sepeninggal Bala-putra Dewa. Majapahit diketahui hancur karena adanya perang saudara (perang paregreg) sepeninggal Maha Patih Gajah Mada. Sedangkan Mataram lemah dan semakin tidak punya gigi karena dipecah belah dan dipreteli gigi taringnya oleh Belanda.
Pada tahun 1755 dengan Perjanjian Giyanti, VOC rnemecah Mataram menjadi dua kekuasaan yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kemudian tahun 1757/1758 VOC memecah Kasunanan Surakarta menjadi dua daerah kekuasaan yaitu Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Baru pada beberapa tahun kemudian Kasultanan Yogyakarta juga dibagi dua menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman.
Benar bahwa penyebab pecah dan lemahnya Mataram lebih dikenal karena faktor intervensi dari luar, yaitu campur tangan VOC di lingkungan Kerajaan Mataram. Namun apakah sudah adayang meneliti bahwa penyebab utama mudahnya bangsa asing (Belanda) mampu menjajah Indonesia sekitar 350 tahun (versi Sejarah Nasional?), lebih karena perilaku elit bangsawan yang korup, lebih suka memperkaya pribadi dan keluarga, kurang mengutamakan aspek pendidikan moral, kurang memperhatikan “character building”, mengabaikan hukum apalagi demokrasi Terlebih lagi sebagian besar penduduk di Nusantara tergolong miskin, mudah dihasut provokasi atau mudah termakan isu dan yang lebih parah mudah diadu domba.
Belanda memahami betul akar “budaya korup” yang tumbuh subur pada bangsa Indonesia, maka melalui politik “Devide et Impera” mereka dengan mudah menaklukkan Nusantara! Namun, bagaimanapun juga Sejarah Nusantara dengan adanya intervensi dan penetrasi Barat, rupanya tidak jauh lebih parah dan penuh tindak kecurangan, perebutan kekuasaan yang tiada berakhir, serta “berintegrasi’ seperti sekarang. Gelaja korupsi dan penyimpangan kekusaan pada waktu itu masih didominasi oleh kalangan bangsawan, sultan dan raja, sedangkan rakyat kecil nyaris “belum mengenal” atau belum memahaminya.
Perilaku “korup” bukan hanya didominasi oleh masyarakat Nusantara saja, rupanya orang-orang Portugis, Spanyol dan Belanda pun gemar “mengkorup” harta-harta Korpsnya, institusi atau pemerintahannya. Kita pun tahu kalau penyebab hancur dan runtuhnya VOC juga karena korupsi. Lebih dari 200 orang pengumpul Liverantie dan Contingenten di Batavia kedapatan korup dan dipulangkan ke negeri Belanda. Lebih dari ratusan bahkan kalau diperkirakan termasuk yang belum diketahui oleh pimpinan Belanda hampir mencapai ribuan orang Belanda juga gemar korup.
Dalam buku History of Java karya Thomas Stanford Raffles (Gubernur Jenderal Inggris yang memerintah Pulau Jawa tahun 1811-1816), terbit pertama tahun 1816 mendapat sambutan yang “luar biasa” baik di kalangan bangsawan lokal atau pribumi Jawa maupun bangsa Barat. Buku tersebut sangat luas memaparkan aspek budaya meliputi situasi geografi, nama-nama daerah, pelabuhan, gunung, sungai, danau, iklim, kandungan mineral, flora dan fauna, karakter dan komposisi penduduk, pengaruh budaya asing dan lain-lain.
Hal menarik dalam buku itu adalah pembahasan seputar karakter penduduk Jawa. Penduduk Jawa digambarkan sangat “nrimo” atau pasrah terhadap keadaan. Namun, di pihak lain, mempunyai keinginan untuk lebih dihargai oleh orang lain. Tidak terus terang, suka menyembunyikan persoalan, dan termasuk mengambil sesuatu keuntungan atau kesempatan di kala orang lain tidak mengetahui.
Hal rnenarik lainnya adalah adanya bangsawan yang gemar menumpuk harta, memelihara sanak (abdi dalem) yang pada umumnya abdi dalem lebih suka mendapat atau mencari perhatian majikannya. Akibatnya, abdi dalem lebih suka mencari muka atau berperilaku oportunis. Dalam kalangan elit kerajaan, raja lebih suka disanjung, dihorrnati, dihargai dan tidak suka menerima kritik dan saran. Kritik dan saran yang disarnpaikan di muka umum lebih dipandang sebagai tantangan atau perlawanan terhadap kekuasaannya. Oleh karena itu budaya kekuasaan di Nusantara (khususnya Jawa) cenderung otoriter. Daiam aspek ekonomi, raja dan lingkaran kaum bangsawan mendominasi sumber-sumber ekonomi di masyarakat. Rakyat umumnya “dibiarkan” miskin, tertindas, tunduk dan harus menuruti apa kata, kemauan atau kehendak “penguasa”.
Budaya yang sangat tertutup dan penuh “keculasan” itu turut menyuburkan “budaya korupsi” di Nusantara. Tidak jarang abdi dalem juga melakukan “korup” dalam mengambil “upeti” (pajak) dari rakyat yang akan diserahkan kepada Demang (Lurah) selanjutnya oleh Demang akan diserahkan kepada Turnenggung. Abdidalem di Katemenggungan setingkat kabupaten atau propinsi juga mengkorup (walaupun sedikit) harta yang akan diserahkan kepada Raja atau Sultan.
Alasan mereka dapat mengkorup, karena satuan hitung belum ada yang standar, di samping rincian barang-barang yang pantas dikenai pajak juga masih kabur. Sebagai contoh, upeti dikenakan untuk hasil-hasil pertanian seperti Kelapa, Padi, dn Kopi. Namun ukuran dan standar upeti di beberapa daerah juga berbeda-beda baik satuan barang, volume dan beratnya, apalagi harganya. Beberapa alasan itulah yang mendorong atau menye-babkan para pengumpul pajak cenderung berperilaku “memaksa” rakyat kecil, di pihak lain menambah “beban” kewajiban rakyat terhadap jenis atau volume komoditi yang harus diserahkan.
Kebiasaan mengambil “upeti” dari rakyat kecil yang dilakukan oleh Raja Jawa ditiru oleh Belanda ketika menguasai Nusantara (1800 – 1942) minus Zaman Inggris (1811 – 1816), Akibat kebijakan itulah banyak terjadi perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Belanda. Sebut saja misalnya perlawanan Diponegoro (1825 -1830), Imam Bonjol (1821 – 1837), Aceh (1873 – 1904) dan lain-lain. Namun, yang lebih menyedihkan lagi yaitu penindasan atas penduduk pribumi (rakyat Indonesia yang terjajah) juga dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Sebut saja misalnya kasus penyelewengan pada pelaksanaan Sistem “Cuituur Stelsel (CS)” yang secara harfiah berarti Sistem Pembudayaan. Walaupun tujuan utama sistem itu adalah membudayakan tanaman produktif di masyarakat agar hasilnya mampu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memberi kontribusi ke kas Belanda, namun kenyataannya justru sangat memprihatinkan.
Isi peraturan (teori atau bunyi hukumnya) dalam CS sebenarnya sangat “manusiawi” dan sangat “beradab”, namun pelaksanaan atau praktiknyalah yang sangat tidak manusiawi, mirip Dwang Stelsel (DS), yang artinya “Sistem Pemaksaan”. Itu sebabnya mengapa sebagian besar pengajar, guru atau dosen sejarah di Indonesia mengganti sebutan CS menjadi DS. mengganti ungkapan “Sistem Pembudayaan” menjadi “Tanam Paksa”.
Seperti apakah bentuk-bentuk pelang-garan CS tersebut? Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Penduduk diwajibkan menanam 1/5 dari tanah miliknya dengan tanaman yang laku dijual di pasar internasional (Kopi, Tembakau, Cengkeh, Kina, Tebu dan boleh juga Padi, bukan seperti sebelumnya yang lebih suka ditanam penduduk yaitu pete, jengkol, sayur-sayuran, padi dan lain-lain). Namun praktiknya ada yang dipaksa oleh “Belanda Item” (orang Indonesia yang bekerja untuk Belanda) menjdi 2/5, 4/5 dan ada yang seluruh lahan ditanami dengan tanaman kesukaan Belanda.
2. Tanah yang ditanami tersebut (1/5) tidak dipungut pajak, namun dalam praktiknya penduduk tetap diwajibkan membayar (meskipun yang sering meng-korup belum tentu Belanda)
3. Penduduk yang tidak rnempunyai tanah diwajibkan bekerja di perkebunan atau perusahaan Belanda selama umur padi (3,5 bulan). Namun, praktiknya ada yang sampai 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun dan bahkan ada yang sampai mati. Jika ada yang tertangkap karena berani melarikan diri maka akan mendapat hukuman cambuk (poenali sanksi).
4. Jika panen gagal akibat bencana alam (banjir, tanah longsor, gempa bumi) maka segala kerugian akan ditanggung pemerintah. Namun praktik di lapangan, penduduk tetap menanggung beban itu yang diperhitungkan pada tahun berikutnya.
5. Jika terjadi kelebihan hasil produksi (over product) dan melebihi kuota, maka kelebihannya akan dikembalikan kepada penduduk. Namun praktiknya dimakan oleh “Belanda Item” atau para pengumpul.
6. Pelaksanaan CS akan diawasi langsung oleh Belanda. Namun pelaksanaannya justru lebih banyak dilakukan oleh “Belanda Item” yang karakternya kadang-kadang jauh lebih kejam, bengis dan tidak
mengenal kornpromi.
Era Pasca Kemerdekaan
Bagaimana sejarah “budaya korupsi” khususnya bisa dijelaskan? Sebenarnya “Budaya korupsi” yang sudah mendarah daging sejak awal sejarah Indonesia dimulai seperti telah diuraikan di muka, rupanya kambuh lagi di Era Pasca Kemerdekaan Indonesia, baik di Era Orde Lama maupun di Era Orde Baru.
Titik tekan dalam persoalan korupsi sebenarnya adalah masyarakat masih belum melihat kesungguhan pemerintah dalam upaya memberantas korupsi. Ibarat penyakit, sebenarnya sudah ditemukan penyebabnya, namun obat mujarab untuk penyembuhan belum bisa ditemukan.
Pada era di bawah kepemimpinan Soekarno, tercatat sudah dua kali dibentuk Badan Pemberantasan Korupsi – Paran dan Operasi Budhi – namun ternyata pemerintah pada waktu itu setengah hati menjalankannya. Paran, singkatan dari Panitia Retooling Aparatur Negara dibentuk berdasarkan Undang-undang Keadaan Bahaya, dipimpin oleh Abdul Haris Nasution dan dibantu oleh dua orang anggota yakni Prof M Yamin dan Roeslan Abdulgani.
Salah satu tugas Paran saat itu adalah agar para pejabat pemerintah diharuskan mengisi formulir yang disediakan – istilah sekarang : daftar kekayaan pejabat negara. Dalam perkembangannya kemudian ternyata kewajiban pengisian formulir tersebut mendapat reaksi keras dari para pejabat. Mereka berdalih agar formulir itu tidak diserahkan kepada Paran tetapi langsung kepada Presiden.
Usaha Paran akhirnya mengalami deadlock karena kebanyakan pejabat berlindung di balik Presiden. Di sisi lain, karena pergolakan di daerah-daerah sedang memanas sehingga tugas Paran akhirnya diserahkan kembali kepada pemerintah (Kabinet Juanda).
Tahun 1963 melalui Keputusan Presiden No 275 Tahun 1963, upaya pemberantasan korupsi kembali digalakkan. Nasution yang saat itu menjabat sebagai Menkohankam/Kasab ditunjuk kembali sebagai ketua dibantu oleh Wiryono Prodjodikusumo. Tugas mereka lebih berat, yaitu meneruskan kasus-kasus korupsi ke meja pengadilan.
Lembaga ini di kemudian hah dikenal dengan istilah “Operasi Budhi”. Sasarannya adalah perusahaan-perusahaan negara serta lembaga-lembaga negara lainnya yang dianggap rawan praktik korupsi dan kolusi. Operasi Budhi ternyata juga mengalami hambatan. Misalnya, untuk menghindari pemeriksaan, Dirut Pertamina mengajukan permohonan kepada Presiden untuk menjalankan tugas ke luar negeri, sementara direksi yang lain menolak diperiksa dengan dalih belum mendapat izin dari atasan.
Dalam kurun waktu 3 bulan sejak Operasi Budhi dijalankan, keuangan negara dapat diselamatkan sebesar kurang lebih Rp 11 miliar, jumlah yang cukup signifikan untuk kurun waktu itu. Karena dianggap mengganggu prestise Presiden, akhirnya Operasi Budhi dihentikan. Menurut Soebandrio dalam suatu pertemuan di Bogor, “prestise Presiden harus ditegakkan di atas semua kepentingan yang lain”.
Selang beberapa hari kemudian, Soebandrio mengumurnkan pembubaran Paran/Operasi Budhi yang kemudian diganti namanya menjadi Kotrar (Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi) di mana Presiden Sukarno menjadi ketuanya serta dibantu oleh Soebandrio dan Letjen Ahmad Yani. Sejarah kemudian mencatat pemberantasan korupsi pada masa itu akhirnya mengalami stagnasi.
Era Orde Baru
Pada pidato kenegaraan di depan anggota DPR/MPR tanggal 16 Agustus 1967, Pj Presiden Soeharto menyalahkan rezim Orde Lama yang tidak mampu memberantas korupsi sehingga segala kebijakan ekonomi dan politik berpusat di Istana. Pidato itu memberi isyarat bahwa Soeharto bertekad untuk membasmi korupsi sampai ke akar-akarnya. Sebagai wujud dari tekad itu tak lama kemudian dibentuklah Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) yang diketuai Jaksa Agung.
Tahun 1970, terdorong oleh ketidak-seriusan TPK dalam memberantas korupsi seperti komitmen Soeharto, mahasiswa dan pelajar melakukan unjuk rasa memprotes keberadaan TPK. Perusahaan-perusahaan negara seperti Bulog, Pertamina, Departemen Kehutanan banyak disorot masyarakat karena dianggap sebagai sarang korupsi. Maraknya gelombang protes dan unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa, akhirnya ditanggapi Soeharto dengan membentuk Komite Empat beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa seperti Prof Johannes, IJ Kasimo, Mr Wilopo dan A Tjokroaminoto. Tugas mereka yang utama adalah membersihkan antara lain Departemen Agama, Bulog, CV Waringin, PT Mantrust, Telkom, dan Pertamina. Namun kornite ini hanya “macan ompong” karena hasil temuannya tentang dugaan korupsi di Pertamina tak direspon pemerintah.
Ketika Laksamana Sudomo diangkat sebagai Pangkopkamtib, dibentuklah Opstib (Operasi Tertib) derigan tugas antara lain juga memberantas korupsi. Kebijakan ini hanya melahirkan sinisme di masyarakat. Tak lama setelah Opstib terbentuk, suatu ketika timbul perbedaan pendapat yang cukup tajam antara Sudomo dengan Nasution. Hal itu menyangkut pemilihan metode atau cara pemberantasan korupsi, Nasution berpendapat apabila ingin berhasil dalam memberantas korupsi, harus dimulai dari atas. Nasution juga menyarankan kepada Laksamana Sudomo agar memulai dari dirinya. Seiring dengan berjalannya waktu, Opstib pun hilang ditiup angin tanpa bekas sama sekali.
Era Reformasi
Jika pada masa Orde Baru dan sebelumnya “korupsi” lebih banyak dilakukan oleh kalangan elit pemerintahan, maka pada Era Reformasi hampir seluruh elemen penyelenggara negara sudah terjangkit “Virus Korupsi” yang sangat ganas. Di era pemerintahan Orde Baru, korupsi sudah membudaya sekali, kebenarannya tidak terbantahkan. Orde Baru yang bertujuan meluruskan dan melakukan koreksi total terhadap ORLA serta melaksanakan Pancasila dan DUD 1945 secara murni dan konsekwen, namun yang terjadi justru Orde Baru lama-lama rnenjadi Orde Lama juga dan Pancasila maupun UUD 1945 belum pernah diamalkan secara murni, kecuali secara “konkesuen” alias “kelamaan”.
Kemudian, Presiden BJ Habibie pernah mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru seperti KPKPN, KPPU atau lembaga Ombudsman, Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK).
Badan ini dibentuk dengan Keppres di masa Jaksa Agung Marzuki Darusman dan dipimpin Hakim Agung Andi Andojo, Namun di tengah semangat menggebu-gebu untuk rnemberantas korupsi dari anggota tim, melalui suatu judicial review Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan. Sejak itu, Indonesia mengalami kemunduran dalam upaya. pemberantasan KKN.
Di samping membubarkan TGPTPK, Gus Dur juga dianggap sebagian masyarakat tidak bisa menunjukkan kepemimpinan yang dapat mendukung upaya pemberantasan korupsi. Kegemaran beliau melakukan pertemuan-pertemuan di luar agenda kepresidenan bahkan di tempat-tempat yang tidak pantas dalam kapasitasnya sebagai presiden, melahirkan kecurigaan masyarakat bahwa Gus Dur sedang melakukan proses tawar-menawar tingkat tinggi.
Proses pemeriksaan kasus dugaan korupsi yang melibatkan konglomerat Sofyan Wanandi dihentikan dengan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dari Jaksa Agung Marzuki Darusman. Akhirnya, Gus Dur didera kasus Buloggate. Gus Dur lengser, Mega pun menggantikannya melalui apa yang disebut sebagai kompromi politik. Laksamana Sukardi sebagai Menneg BUMN tak luput dari pembicaraan di masyarakat karena kebijaksanaannya menjual aset-aset negara.
Di masa pemerintahan Megawati pula kita rnelihat dengan kasat mata wibawa hukum semakin merosot, di mana yang menonjol adalah otoritas kekuasaan. Lihat saja betapa mudahnya konglomerat bermasalah bisa mengecoh aparat hukum dengan alasan berobat ke luar negeri. Pemberian SP3 untuk Prajogo Pangestu, Marimutu Sinivasan, Sjamsul Nursalim, The Nien King, lolosnya Samadikun Hartono dari jeratan eksekusi putusan MA, pemberian fasilitas MSAA kepada konglomerat yang utangnya macet, menjadi bukti kuat bahwa elit pemerintahan tidak serius dalam upaya memberantas korupsi, Masyarakat menilai bahwa pemerintah masih memberi perlindungan kepada para pengusaha besar yang nota bene memberi andil bagi kebangkrutan perekonomian nasional. Pemerintah semakin lama semakin kehilangan wibawa. Belakangan kasus-kasus korupsi merebak pula di sejumlah DPRD era Reformasi.
Pelajaran apa yang bisa ditarik dari uraian ini? Ternyata upaya untuk memberantas korupsi tidak semudah memba-likkan tangan. Korupsi bukan hanya menghambat proses pembangunan negara ke arah yang lebih baik, yaitu peningkatan kesejahteraan serta pengentasan kemiskinan rakyat. Ketidakberdayaan hukum di hadapan orang kuat, ditambah minimnya komitmen dari elit pemerintahan rnenjadi faktor penyebab mengapa KKN masih tumbuh subur di Indonesia. Semua itu karena hukum tidak sama dengan keadilan, hukum datang dari otak manusia penguasa, sedangkan keadilan datang dari hati sanubari rakyat. (amanahonline)
0

Sejarah korupsi di indonesia


Sejarah Korupsi di Indonesia

http://centraldemokrasi.com/wp-content/uploads/2012/02/20120222_103424_kor2.jpgOleh: Amin Rahayu, SS
Tarian Koruptor Korupsi di Indonesia sudah ‘membudaya’ sejak dulu, sebelum dan sesudah kemerdekaan, di era Orde Lama, Orde Baru, berlanjut hingga era Reformasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas korupsi, namun hasilnya masih jauh panggang dari api. Sejarawan di Indonesia umumnya kurang tertarik memfokuskan kajiannya pada sejarah ekonomi, khususnya seputar korupsi yang berkaitan dengan kekuasaan yang dilakukan oleh para bangsawan kerajaan, kesultanan, pegawai Belanda (Amtenaren dan Binenland Bestuur) maupun pemerintah Hindia Belanda sendiri.
Sejarawan lebih tertarik pada pengkajian sejarah politik dan sosial, padahal dampak yang ditimbulkan dari aspek sejarah ekonomi itu, khususnya dalam “budaya korupsi” yang sudah mendarah daging mampu mempengaruhi bahkan merubah peta perpolitikan, baik dalam skala lokal yaitu lingkup kerajaan yang bersangkutan maupun skala besar yaitu sistem dan pola pemerintahan di Nusantara ini. Sistem dan pola itu dengan kuat mengajarkan “perilaku curang, culas, uncivilian, amoral, oportunis dan lain-lain” dan banyak menimbulkan tragedi yang teramat dahsyat.
Era Sebelum Indonesia Merdeka
Sejarah sebelum Indonesia merdeka sudah diwarnai oleh “budaya-tradisi korupsi” yang tiada henti karena didorong oleh motif kekuasaan, kekayaan dan wanita. Kita dapat menyirnak bagaimana tradisi korupsi berjalin berkelin dan dengan perebutan kekusaan di Kerajaan Singosari (sampai tujuh keturunan saling membalas dendam berebut kekusaan: Anusopati-Tohjoyo-Ranggawuni-Mahesa Wongateleng dan seterusnya), Majapahit (pemberontakan Kuti, Narnbi, Suro dan lain-lain), Demak (Joko Tingkir dengan Haryo Penangsang), Banten (Sultan Haji merebut tahta dari ayahnya, Sultan Ageng Tirtoyoso), perlawanan rakyat terhadap Belanda dan seterusnya sampai terjadfnya beberapa kali peralihan kekuasaan di Nusantara telah mewarnai Sejarah Korupsi dan Kekuasaan di Indonesia.
Umumnya para Sejarawan Indonesia belum mengkaji sebab ekonomi mengapa mereka saling berebut kekuasaan. Secara politik memang telah lebih luas dibahas, namun motif ekonomi – memperkaya pribadi dan keluarga diantara kaum bangsawan – belum nampak di permukaan “Wajah Sejarah Indonesia”.
Sebenarnya kehancuran kerajaan-kerajaan besar (Sriwijaya, Majapahit dan Mataram) adalah karena perilaku korup dari sebagian besar para bangsawannya. Sriwijaya diketahui berakhir karena tidak adanya pengganti atau penerus kerajaan sepeninggal Bala-putra Dewa. Majapahit diketahui hancur karena adanya perang saudara (perang paregreg) sepeninggal Maha Patih Gajah Mada. Sedangkan Mataram lemah dan semakin tidak punya gigi karena dipecah belah dan dipreteli gigi taringnya oleh Belanda.
Pada tahun 1755 dengan Perjanjian Giyanti, VOC rnemecah Mataram menjadi dua kekuasaan yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kemudian tahun 1757/1758 VOC memecah Kasunanan Surakarta menjadi dua daerah kekuasaan yaitu Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Baru pada beberapa tahun kemudian Kasultanan Yogyakarta juga dibagi dua menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman.
Benar bahwa penyebab pecah dan lemahnya Mataram lebih dikenal karena faktor intervensi dari luar, yaitu campur tangan VOC di lingkungan Kerajaan Mataram. Namun apakah sudah adayang meneliti bahwa penyebab utama mudahnya bangsa asing (Belanda) mampu menjajah Indonesia sekitar 350 tahun (versi Sejarah Nasional?), lebih karena perilaku elit bangsawan yang korup, lebih suka memperkaya pribadi dan keluarga, kurang mengutamakan aspek pendidikan moral, kurang memperhatikan “character building”, mengabaikan hukum apalagi demokrasi Terlebih lagi sebagian besar penduduk di Nusantara tergolong miskin, mudah dihasut provokasi atau mudah termakan isu dan yang lebih parah mudah diadu domba.
Belanda memahami betul akar “budaya korup” yang tumbuh subur pada bangsa Indonesia, maka melalui politik “Devide et Impera” mereka dengan mudah menaklukkan Nusantara! Namun, bagaimanapun juga Sejarah Nusantara dengan adanya intervensi dan penetrasi Barat, rupanya tidak jauh lebih parah dan penuh tindak kecurangan, perebutan kekuasaan yang tiada berakhir, serta “berintegrasi’ seperti sekarang. Gelaja korupsi dan penyimpangan kekusaan pada waktu itu masih didominasi oleh kalangan bangsawan, sultan dan raja, sedangkan rakyat kecil nyaris “belum mengenal” atau belum memahaminya.
Perilaku “korup” bukan hanya didominasi oleh masyarakat Nusantara saja, rupanya orang-orang Portugis, Spanyol dan Belanda pun gemar “mengkorup” harta-harta Korpsnya, institusi atau pemerintahannya. Kita pun tahu kalau penyebab hancur dan runtuhnya VOC juga karena korupsi. Lebih dari 200 orang pengumpul Liverantie dan Contingenten di Batavia kedapatan korup dan dipulangkan ke negeri Belanda. Lebih dari ratusan bahkan kalau diperkirakan termasuk yang belum diketahui oleh pimpinan Belanda hampir mencapai ribuan orang Belanda juga gemar korup.
Dalam buku History of Java karya Thomas Stanford Raffles (Gubernur Jenderal Inggris yang memerintah Pulau Jawa tahun 1811-1816), terbit pertama tahun 1816 mendapat sambutan yang “luar biasa” baik di kalangan bangsawan lokal atau pribumi Jawa maupun bangsa Barat. Buku tersebut sangat luas memaparkan aspek budaya meliputi situasi geografi, nama-nama daerah, pelabuhan, gunung, sungai, danau, iklim, kandungan mineral, flora dan fauna, karakter dan komposisi penduduk, pengaruh budaya asing dan lain-lain.
Hal menarik dalam buku itu adalah pembahasan seputar karakter penduduk Jawa. Penduduk Jawa digambarkan sangat “nrimo” atau pasrah terhadap keadaan. Namun, di pihak lain, mempunyai keinginan untuk lebih dihargai oleh orang lain. Tidak terus terang, suka menyembunyikan persoalan, dan termasuk mengambil sesuatu keuntungan atau kesempatan di kala orang lain tidak mengetahui.
Hal rnenarik lainnya adalah adanya bangsawan yang gemar menumpuk harta, memelihara sanak (abdi dalem) yang pada umumnya abdi dalem lebih suka mendapat atau mencari perhatian majikannya. Akibatnya, abdi dalem lebih suka mencari muka atau berperilaku oportunis. Dalam kalangan elit kerajaan, raja lebih suka disanjung, dihorrnati, dihargai dan tidak suka menerima kritik dan saran. Kritik dan saran yang disarnpaikan di muka umum lebih dipandang sebagai tantangan atau perlawanan terhadap kekuasaannya. Oleh karena itu budaya kekuasaan di Nusantara (khususnya Jawa) cenderung otoriter. Daiam aspek ekonomi, raja dan lingkaran kaum bangsawan mendominasi sumber-sumber ekonomi di masyarakat. Rakyat umumnya “dibiarkan” miskin, tertindas, tunduk dan harus menuruti apa kata, kemauan atau kehendak “penguasa”.
Budaya yang sangat tertutup dan penuh “keculasan” itu turut menyuburkan “budaya korupsi” di Nusantara. Tidak jarang abdi dalem juga melakukan “korup” dalam mengambil “upeti” (pajak) dari rakyat yang akan diserahkan kepada Demang (Lurah) selanjutnya oleh Demang akan diserahkan kepada Turnenggung. Abdidalem di Katemenggungan setingkat kabupaten atau propinsi juga mengkorup (walaupun sedikit) harta yang akan diserahkan kepada Raja atau Sultan.
Alasan mereka dapat mengkorup, karena satuan hitung belum ada yang standar, di samping rincian barang-barang yang pantas dikenai pajak juga masih kabur. Sebagai contoh, upeti dikenakan untuk hasil-hasil pertanian seperti Kelapa, Padi, dn Kopi. Namun ukuran dan standar upeti di beberapa daerah juga berbeda-beda baik satuan barang, volume dan beratnya, apalagi harganya. Beberapa alasan itulah yang mendorong atau menye-babkan para pengumpul pajak cenderung berperilaku “memaksa” rakyat kecil, di pihak lain menambah “beban” kewajiban rakyat terhadap jenis atau volume komoditi yang harus diserahkan.
Kebiasaan mengambil “upeti” dari rakyat kecil yang dilakukan oleh Raja Jawa ditiru oleh Belanda ketika menguasai Nusantara (1800 – 1942) minus Zaman Inggris (1811 – 1816), Akibat kebijakan itulah banyak terjadi perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Belanda. Sebut saja misalnya perlawanan Diponegoro (1825 -1830), Imam Bonjol (1821 – 1837), Aceh (1873 – 1904) dan lain-lain. Namun, yang lebih menyedihkan lagi yaitu penindasan atas penduduk pribumi (rakyat Indonesia yang terjajah) juga dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Sebut saja misalnya kasus penyelewengan pada pelaksanaan Sistem “Cuituur Stelsel (CS)” yang secara harfiah berarti Sistem Pembudayaan. Walaupun tujuan utama sistem itu adalah membudayakan tanaman produktif di masyarakat agar hasilnya mampu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memberi kontribusi ke kas Belanda, namun kenyataannya justru sangat memprihatinkan.
Isi peraturan (teori atau bunyi hukumnya) dalam CS sebenarnya sangat “manusiawi” dan sangat “beradab”, namun pelaksanaan atau praktiknyalah yang sangat tidak manusiawi, mirip Dwang Stelsel (DS), yang artinya “Sistem Pemaksaan”. Itu sebabnya mengapa sebagian besar pengajar, guru atau dosen sejarah di Indonesia mengganti sebutan CS menjadi DS. mengganti ungkapan “Sistem Pembudayaan” menjadi “Tanam Paksa”.
Era Pasca Kemerdekaan
Pada era di bawah kepemimpinan Soekarno, tercatat sudah dua kali dibentuk Badan Pemberantasan Korupsi – Paran dan Operasi Budhi – namun ternyata pemerintah pada waktu itu setengah hati menjalankannya. Paran, singkatan dari Panitia Retooling Aparatur Negara dibentuk berdasarkan Undang-undang Keadaan Bahaya, dipimpin oleh Abdul Haris Nasution dan dibantu oleh dua orang anggota yakni Prof M Yamin dan Roeslan Abdulgani.
Salah satu tugas Paran saat itu adalah agar para pejabat pemerintah diharuskan mengisi formulir yang disediakan – istilah sekarang : daftar kekayaan pejabat negara. Dalam perkembangannya kemudian ternyata kewajiban pengisian formulir tersebut mendapat reaksi keras dari para pejabat. Mereka berdalih agar formulir itu tidak diserahkan kepada Paran tetapi langsung kepada Presiden.
Usaha Paran akhirnya mengalami deadlock karena kebanyakan pejabat berlindung di balik Presiden. Di sisi lain, karena pergolakan di daerah-daerah sedang memanas sehingga tugas Paran akhirnya diserahkan kembali kepada pemerintah (Kabinet Juanda).
Tahun 1963 melalui Keputusan Presiden No 275 Tahun 1963, upaya pemberantasan korupsi kembali digalakkan. Nasution yang saat itu menjabat sebagai Menkohankam atau Kasab ditunjuk kembali sebagai ketua dibantu oleh Wiryono Prodjodikusumo. Tugas mereka lebih berat, yaitu meneruskan kasus-kasus korupsi ke meja pengadilan.
Lembaga ini di kemudian hah dikenal dengan istilah “Operasi Budhi”. Sasarannya adalah perusahaan-perusahaan negara serta lembaga-lembaga negara lainnya yang dianggap rawan praktik korupsi dan kolusi. Operasi Budhi ternyata juga mengalami hambatan. Misalnya, untuk menghindari pemeriksaan, Dirut Pertamina mengajukan permohonan kepada Presiden untuk menjalankan tugas ke luar negeri, sementara direksi yang lain menolak diperiksa dengan dalih belum mendapat izin dari atasan.
Dalam kurun waktu 3 bulan sejak Operasi Budhi dijalankan, keuangan negara dapat diselamatkan sebesar kurang lebih Rp 11 miliar, jumlah yang cukup signifikan untuk kurun waktu itu. Karena dianggap mengganggu prestise Presiden, akhirnya Operasi Budhi dihentikan. Menurut Soebandrio dalam suatu pertemuan di Bogor, “prestise Presiden harus ditegakkan di atas semua kepentingan yang lain”.
Selang beberapa hari kemudian, Soebandrio mengumurnkan pembubaran Paran/Operasi Budhi yang kemudian diganti namanya menjadi Kotrar (Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi) di mana Presiden Sukarno menjadi ketuanya serta dibantu oleh Soebandrio dan Letjen Ahmad Yani. Sejarah kemudian mencatat pemberantasan korupsi pada masa itu akhirnya mengalami stagnasi.
Era Orde Baru
Pada pidato kenegaraan di depan anggota DPR/MPR tanggal 16 Agustus 1967, Pj Presiden Soeharto menyalahkan rezim Orde Lama yang tidak mampu memberantas korupsi sehingga segala kebijakan ekonomi dan politik berpusat di Istana. Pidato itu memberi isyarat bahwa Soeharto bertekad untuk membasmi korupsi sampai ke akar-akarnya. Sebagai wujud dari tekad itu tak lama kemudian dibentuklah Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) yang diketuai Jaksa Agung.
Tahun 1970, terdorong oleh ketidak-seriusan TPK dalam memberantas korupsi seperti komitmen Soeharto, mahasiswa dan pelajar melakukan unjuk rasa memprotes keberadaan TPK. Perusahaan-perusahaan negara seperti Bulog, Pertamina, Departemen Kehutanan banyak disorot masyarakat karena dianggap sebagai sarang korupsi. Maraknya gelombang protes dan unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa, akhirnya ditanggapi Soeharto dengan membentuk Komite Empat beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa seperti Prof Johannes, IJ Kasimo, Mr Wilopo dan A Tjokroaminoto. Tugas mereka yang utama adalah membersihkan antara lain Departemen Agama, Bulog, CV Waringin, PT Mantrust, Telkom, dan Pertamina. Namun kornite ini hanya “macan ompong” karena hasil temuannya tentang dugaan korupsi di Pertamina tak direspon pemerintah.
Ketika Laksamana Sudomo diangkat sebagai Pangkopkamtib, dibentuklah Opstib (Operasi Tertib) derigan tugas antara lain juga memberantas korupsi. Kebijakan ini hanya melahirkan sinisme di masyarakat. Tak lama setelah Opstib terbentuk, suatu ketika timbul perbedaan pendapat yang cukup tajam antara Sudomo dengan Nasution. Hal itu menyangkut pemilihan metode atau cara pemberantasan korupsi, Nasution berpendapat apabila ingin berhasil dalam memberantas korupsi, harus dimulai dari atas. Nasution juga menyarankan kepada Laksamana Sudomo agar memulai dari dirinya. Seiring dengan berjalannya waktu, Opstib pun hilang ditiup angin tanpa bekas sama sekali.
Era Reformasi
Jika pada masa Orde Baru dan sebelumnya “korupsi” lebih banyak dilakukan oleh kalangan elit pemerintahan, maka pada Era Reformasi hampir seluruh elemen penyelenggara negara sudah terjangkit “Virus Korupsi” yang sangat ganas. Di era pemerintahan Orde Baru, korupsi sudah membudaya sekali, kebenarannya tidak terbantahkan. Orde Baru yang bertujuan meluruskan dan melakukan koreksi total terhadap ORLA serta melaksanakan Pancasila dan DUD 1945 secara murni dan konsekwen, namun yang terjadi justru Orde Baru lama-lama rnenjadi Orde Lama juga dan Pancasila maupun UUD 1945 belum pernah diamalkan secara murni, kecuali secara “konkesuen” alias “kelamaan”.
Kemudian, Presiden BJ Habibie pernah mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru seperti KPKPN, KPPU atau lembaga Ombudsman, Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK).
Badan ini dibentuk dengan Keppres di masa Jaksa Agung Marzuki Darusman dan dipimpin Hakim Agung Andi Andojo, Namun di tengah semangat menggebu-gebu untuk rnemberantas korupsi dari anggota tim, melalui suatu judicial review Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan. Sejak itu, Indonesia mengalami kemunduran dalam upaya. pemberantasan KKN.
Di samping membubarkan TGPTPK, Gus Dur juga dianggap sebagian masyarakat tidak bisa menunjukkan kepemimpinan yang dapat mendukung upaya pemberantasan korupsi. Kegemaran beliau melakukan pertemuan-pertemuan di luar agenda kepresidenan bahkan di tempat-tempat yang tidak pantas dalam kapasitasnya sebagai presiden, melahirkan kecurigaan masyarakat bahwa Gus Dur sedang melakukan proses tawar-menawar tingkat tinggi.
Proses pemeriksaan kasus dugaan korupsi yang melibatkan konglomerat Sofyan Wanandi dihentikan dengan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dari Jaksa Agung Marzuki Darusman. Akhirnya, Gus Dur didera kasus Buloggate. Gus Dur lengser, Mega pun menggantikannya melalui apa yang disebut sebagai kompromi politik. Laksamana Sukardi sebagai Menneg BUMN tak luput dari pembicaraan di masyarakat karena kebijaksanaannya menjual aset-aset negara.
Di masa pemerintahan Megawati pula kita rnelihat dengan kasat mata wibawa hukum semakin merosot, di mana yang menonjol adalah otoritas kekuasaan. Lihat saja betapa mudahnya konglomerat bermasalah bisa mengecoh aparat hukum dengan alasan berobat ke luar negeri. Pemberian SP3 untuk Prajogo Pangestu, Marimutu Sinivasan, Sjamsul Nursalim, The Nien King, lolosnya Samadikun Hartono dari jeratan eksekusi putusan MA, pemberian fasilitas MSAA kepada konglomerat yang utangnya macet, menjadi bukti kuat bahwa elit pemerintahan tidak serius dalam upaya memberantas korupsi, Masyarakat menilai bahwa pemerintah masih memberi perlindungan kepada para pengusaha besar yang nota bene memberi andil bagi kebangkrutan perekonomian nasional. Pemerintah semakin lama semakin kehilangan wibawa. Belakangan kasus-kasus korupsi merebak pula di sejumlah DPRD era Reformasi.
Pelajaran apa yang bisa ditarik dari uraian ini? Ternyata upaya untuk memberantas korupsi tidak semudah memba-likkan tangan. Korupsi bukan hanya menghambat proses pembangunan negara ke arah yang lebih baik, yaitu peningkatan kesejahteraan serta pengentasan kemiskinan rakyat. Ketidakberdayaan hukum di hadapan orang kuat, ditambah minimnya komitmen dari elit pemerintahan rnenjadi faktor penyebab mengapa KKN masih tumbuh subur di Indonesia. Semua itu karena hukum tidak sama dengan keadilan, hukum datang dari otak manusia penguasa, sedangkan keadilan datang dari hati sanubari rakyat.
Penulis adalah Analis informasi llmiah pada Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah – LIPI, Pengajar llmu Sejarah, Sosiologi dan Tata Negara.
Rabu, 03 Oktober 2012

ARTI DAN MAKNA DARI LAMBANG MOONRAKER


Arti dan makna dari lambang MOONRAKER

Salam Wanieun,
Didalam organisasi, Tim, Klub, bahkan Negara pasti mempunyai Lambang dan Bendera.
Bahasa simbol pun sudah dipakai oleh peradaban-peradaban leluhur untuk mempertahankan esensi dari makna supaya tidak tergerus oleh waktu dan pesan tersebut tetap dapat disampaikan.
Disini saya akan memperjelas tentang lambang dari klub MOONRAKER, yaitu sebuah klub motor Hobi di Jawa Barat yang terdaftar di IMI (Ikatan Motor Indonesia).
Jika di XTC menggunakan lambang “lebah” yang bagi orang Mesir Kuno lambang lebah telah dianggap sebagai simbol Kreatifitas.
Sedangkan di BRIGEZ menggunakan lambang “kelelawar” yang mengartikan segala aktivitas dan kegiatan dilakukan pada malam hari.
Bagi orang Cina lambang kelelawar dianggap sebagai simbol Kebahagiaan dan umur panjang(Abadi).
Demikian juga organisasi klub MOONRAKER yang mempunyai bermacam-macam arti lambang.
Lambang pertama yang menjadi icon dari klub motor Moonraker adalah lambang "Serigala" yang bagi orang Romawi dan Mesir Kuno lambang serigala diartikan sebagai simbol Pemberani (Wanieun:Sunda).
Kata Wanieun seringkali dipakai untuk ciri khas sebuah tanda salam dan motto dari para anggota club ini.
Arti lain lambang serigala dapat diartikan sebagai simbol semangat, persatuan, kecepatan dan kebersamaan/solidaritas.
Lambang kedua Moonraker terdiri dari “Sepasang Sayap Garuda” lambang yang hampir sama dengan lambang sayap pada simbol Negara Indonesia.
Hal ini menunjukkan organisasi klub motor Moonraker adalah bagian dari negara Indonesia dan cinta Indonesia.
Sayap dari lambang Moonraker berjumlah 14 bulu pada masing-masing sayap dan jika dijumlahkan menjadi 28 bulu yang mengingatkan berdirinya organisasi tersebut pada tanggal 28 Oktober 1978.
Burung garuda dilukiskan sebagai burung rajawali seutuhnya dimana kepakan sayapnya yang sangat kuat. Maka sayap garuda sendiri pun dianggap sebagai simbol Kekuatan.
Lambang ketiga, Mata rantai yang terdapat pada lambang Moonraker melambangkan unsur generasi penerus yang turun temurun dan tidak akan pernah terputus. Didalam mata rantai tersebut terdapat tulisan M2R yaitu singkatan atau nama sandi dari Moonraker.
Lambang keempat Moonraker terdapat Pita yang menyerukan semboyan “Bandung Speed Maniac” (Anak-anak Bandung yang maniac akan sebuah kecepatan).
Semboyan ini terbukti dengan banyaknya prestasi yang diperoleh oleh anggota dalam ajang perlombaan balap motor. Sekitar tahun 2008 semboyan itu diganti menjadi “Jabar Sport Club” yang dapat diartikan sebagai Klub motor di Jawa Barat yang menjunjung Sportifitas dan kini semboyan itu berubah menjadi “Indonesia Sport Club”.
Kemudian keempat lambang itu disatukan dalam sebuah Tameng yang dianggap sebagai simbol dari Perlindungan diri.
Logo Moonraker hanya boleh digunakan oleh anggota resmi. Anggota resmi Moonraker adalah orang yang sudah mempunyai Kartu Tanda Anggota dari organisasi klub motor Moonraker. Untuk simpatisan dan pendukung klub ini tidak boleh memakai logo Moonraker.


Pesan : Janganlah kita melihat lambang sampai lupa esensi sesungguhnya dari lambang tersebut.

Bahasa Tubuh Yang Wajib Dikuasai Pimpinan VJ Motor

Bahasa Tubuh Yang Wajib Dikuasai Pimpinan Touring Sepeda Motor (VJ):

Gambar dibawah ini adalah sekedar contoh yang sekiranya harus dilakoni oleh ‘Petugas VJ Touring’ karena ia akan memimpin barisan grup, sudah tentu posisinya harus berada di barisan paling depan. Kemudian bahasa isyarat yang diberikan oleh VJ harus diikuti oleh peserta secara berurutan mulai dari peserta nomor dua dan terus kebelakang.

Namun pada prakteknya beberapa isyarat mempunyai arti dan makna yang berbeda. Hal ini karena disesuaikan dengan gaya dan riding style dari setiap komunitas, klub motor, jenis motor yang dipakai maupun sikap dari pengendara itu sendiri.

1. START MESIN
Petugas VJ memberikan isyarat ‘hidupkan mesin’ dengan tangan kanan keatas sambil memainkan jari telunjuk tangan kanan.
Posisi masih berhenti dan kode start harus didahului oleh klakson dari petugas SW yang ada paling belakang. Usai klakson SW tadi, VJ memberikan acungan jempol tangan kanan/kiri agar dilihat oleh semua anggota, artinya ‘ready to go.’


2. BELOK KIRI
Petugas VJ memberikan isyarat ‘belok kiri’ dengan cara mengayunkan tangan kiri sampai batas pundak sebelum ia belok ke kiri.

3. BELOK KANAN
Petugas VJ memberikan isyarat belok kanan dengan cara mengangkat tangan kiri sampai keatas helm, dengan telapak tangan kiri tebuka mengarak kekanan. Gerakan diulangi beberapa kali menunjuk kekanan.
4. BAHAYA DI SISI KIRI I
Petugas VJ memberikan isyarat ada ‘bahaya di sisi kiri’ dengan mengangkat tangan kiri, serta menurunkan tangan kirinya ke bawah sambil membuka jari telunjuknya. Menunjuk sesuatu kebawah kiri seperti ada lubang atau jalan rusak. Cara ini jauh lebih baik dari pada dengan mengangkat kaki.
5. BAHAYA DI SISI KANAN I
Sama seperti gambar di atas cuma arah tangannya berbeda dengan kondisi diatas. Kalau pengendara bisa melepas gas dengan situasi aman, maka isyarat memberikan ‘bahaya di sebelah kanan’ bisa saja dilakukan dengan mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah kanan.

6. BAHAYA DI SISI KANAN II
Petugas VJ jika terpaksa memberikan isyarat ‘bahaya disisi kanan’ dengan cara mengangkat kaki kanan secukupnya. Isyarat ini bukan aksi mau menendang, tetapi hanya sekedar memberitahukan adanya bahaya dikanan karena tangan kanan pengendara harus tetap pegang handle gas.
7. BAHAYA DI SISI KIRI II
Sama seperti gambar di atas cuma arah kakinya berbeda dengan kondisi diatas, Petugas VJ bisa juga memberikan isyarat ada ‘bahaya disisi kiri’ sambil mengangkat kaki kiri secukupnya. Sekali lagi
isyarat-isyarat menggunakan kaki bukan bermaksud menendang, tetapi hanya memberitahukan ada bahaya di kiri sementara tangan kiri pengendara harus pegang kopling.

8. TAMBAH KECEPATAN
Petugas VJ memberikan isyarat ‘tambah kecepatan’ dengan cara mengangkat tangan kiri sambil menunjukkan jari telunjuk kirinya. Isyarat ini bisa juga di lakukan dengan membuka telapak tangan kiri kemudian digerakkan kedepan berulang-ulang. Gerakan tangan yang lain, yaitu tangan kiri diangkat ke atas kemudian didorong kedepan. Isyarat ini harus melihat kondisi jalan, apakah aman serta memungkinkan kecepatan bisa ditambah.
9. KURANGI KECEPATAN
Petugas VJ memberikan isyarat ‘kurangi kecepatan’ dengan cara melepas lengan tangan kiri dari handle kopling dengan secukupnya kemudian telapak tangan terbuka dimainkan atau diayunkan dengan perlahan. Bisa juga lengan tangan kiri secara besar diayun-ayunkan agar terlihat oleh semua anggota. Biasanya isyarat ini dilakukan ketika melewati tikungan-tikungan di pegunungan atau di jalan lurus dimana VJ minta kecepatan dikurangi secara perlahan, atau juga VJ minta extra perhatian daripada anggota untuk selalu “hati-hati”.
10. RAPATKAN BARISAN
Petugas VJ memberikan isyarat ‘rapatkan barisan’ dengan mengangkat tangan kirinya keatas, mengepalkan telapak tangan kiri kemudian diayunkan beberapa kali. Isyarat ini bisa juga diartikan ketika kecepatan mendadak diminta VJ agar segera pelan dan kemudian akan berhenti karena ada bahaya.
11. BUAT SATU BARIS
Petugas VJ memberikan isyarat ‘buat barisan jadi satu’ dengan cara mengangkat tangan kirinya tinggi dan menempatkan telapak tangan kirinya diatas helm terbuka menghadap ke kanan, kemudian telapak tangan tadi diayunkan seperlunya. Isyarat satu baris ini juga bisa dengan mengangkat tangan kiri kemudian memberikan telunjuk satu kiri.
12. BUAT DUA BARIS
Petugas VJ memberikan isyarat ‘buat dua baris’ dengan cara mengangkat tangan kirinya dengan memberikan kode dua jari sebagai tanda angka 2. Isyarat ini meminta formasi barisan grup menjadi dua dengan syarat kecepatan rendah. Jika kondisi dua baris sudah tidak mungkin lagi, maka secepatnya VJ memberikan isyarat satu baris (no. 11).
13. STOP/BERHENTI
Petugas VJ memberikan isyarat “berhenti/stop” dengan cara melepaskan tangan kirinya dari handle kopling kemudian telapak kirinya dibuka ke belakang sambil dimainkan atau digoyang-goyang menandakan harap segera berhenti. Isyarat ini jarang dipergunakan karena isyarat no. 10 rapatkan barisan dipakai sekaligus untuk berhenti.
Seluruh keterangan mekanisme touring, maupun bahasa isyarat VJ yang telah dipaparkan diatas bukanlah suatu hal yang baku. Sebenarnya masih banyak lagi mekanisme touring, maupun isyarat-isyarat lainnya yang bisa dipergunakan ketika berkendara bersama grup. Semua mekanisme touring dan bahasa isyarat tetap disesuaikan dengan kebutuhan, juga perkembangan dari setiap grup, komunitas, maupun klub motor yang bersangkutan.

Prestasi Balap Motor di PON Jadi Solusi Geng Motor

"Keberhasilan tim balap motor Jabar di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau, diharapkan bisa memberikan dampak pada aktivitas generasi muda yang positif. Salah satunya terhadap aktivitas geng motor yang saat ini kembali berulah."
Rio Teguh selaku Ketua kontingen team Balap motor PON Jawa barat memimpin keberangkatan dari bandara Husein sastranegara Bandung pada tanggal 5 September 2012 pukul 07.20 WIB.
Keberangkatan Team diikuti 4 pembalap Berprestasi yang dimiliki Jawa Barat sekelas Owie Nurhuda, Wahyu Widodo, Oki Ristan dan Anggi Permana Putra didampingi pula oleh pelatih Irvan Octavian dan Benny Baonk Nursandi serta wakil manager Uki Jutomo.
Para atlet akan mengikuti ajang perebutan medali emas dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 cabang balap motor di Sirkuit Sport Centre Bangkinang, Kabupaten Kampar, Riau.
Sebanyak 23 pembalap di kelas perseorangan dan 15 pembalap Pengprov di kelas beregu lolos untuk berpartisipasi di PON Riau 2012.
Empat medali emas diperebutkan dalam ajang ini. Mereka bermain di kelas 115 cc perorangan dan beregu serta 125 cc perorangan dan beregu.
Dan pada akhirnya, Provinsi Jawa Barat berhasil mengantongi dua emas dalam cabang balap motor ini. Kedua medali emas tersebut berhasil diraih oleh Wahyu Widodo dan Anggi Permana di kelas 125 cc beregu. Sedangkan satu medali emas juga berhasil diraih oleh Oki 'Ristan' Lukmansyah dan Owie Nurhuda di kelas beregu 110 cc.

Sementara itu pembalap tuan rumah, Riau juga berhasil mengantongi satu medali emas melalui cabang balap motor yaitu Ifos Alfa Ria yang berhasil menyabet emas tersebut di kelas perseorangan 110 cc. Ifos Alfa Ria menjadi yang terbaik setelah membukukan waktu tercepat 18,06 menit.
Satu medali emas lagi berhak menjadi milik Rafid Topan Sucipto, pembalap asal DKI Jakarta. Pembalap andalan Jakarta ini mengantongi emas dari kelas perorangan 125cc.
Keberhasilan mereka diharapkan bisa menjadi contoh dan motivasi generasi muda lainnya dalam menyalurkan hobi balap motor.

Menurut istri Gubernur Jawa Barat, Netty Prasetyani Heryawan saat menyambut kontingen balap motor di gedung negara Pakuan, Jalan Oto Iskandardinata Kota Bandung, Kamis (13/9/2012) "Keberhasilan tim balap motor ini bisa menjadi sebuah kanalisasi bagi anak muda di Jabar yang memiliki hobi balap motor. Salah satunya menjadi kanalisasi atau penyaluran bagi generasi muda di geng-geng motor. Bukan tidak mungkin mereka menjadi atlet balap motor profesional."
Netty menambahkan, sejatinya, generasi muda yang terlibat geng motor bukan merupakan potensi yang negatif. Namun, mereka hanya memerlukan perhatian dan pengakuan atas kegiatan dan hobi mereka. Dan salah satunya bisa disalurkan melalui cabang olahraga balap motor. Dishub dan Disorda harus mulai mengajak mereka dan disalurkan ke cabang olahraga ini. Mudah-mudahan ini menjadi solusi bagi penanganan geng motor," tuturnya.
Salah seorang atlet balap motor PON XVIII/2012, Anggi Permana pun mengamini pernyataan istri Gubernur Jabar. Anggi menilai, keberadaan geng motor lebih kepada salah pergaulan dan kurangnya penyaluran minat generasi muda.
"Saya selalu ingat apa yang dikatakan kakak saya Irvan Chupenk. Kalau hobi balap dan ingin jadi pembalap, jadilah pembalap profesional. Bukan pembalap kacangan atau pembalap liar. Dan saya kira itu pun bisa menjadi gambaran bagi mereka yang gabung di geng motor," ujar peraih medali emas beregu 125 cc dan medali perunggu perorangan 125 cc di PON XVIII/2012 ini.
Untuk itu, dirinya mengajak generasi muda untuk menyalurkan hobi dan kegiatannya kepada hal-hal yang positif. Dan jika suka dengan balap motor, bisa disalurkan di sirkuit bukan di jalanan umum.
"Kalau balapan liar di jalanan banyak resikonya. Kalau jatuh, misalnya, siapa yang akan menolong. Beda dengan di sirkuit, jatuh ataupun sampai patah kaki, misalkan, kita ada tim yang menolong. Dan kalau berprestasi kita juga yang untung dan mendapat kebanggaan. Tidak hanya kita tapi juga keluarga," tutur anak ke empat dari 5 bersaudara.
Terkait sirkuit atau lintasan, Ketua Umum Pengprov IMI Jabar Oke Djunjunan mengaku telah melakukan pembicaraan langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Bahkan, tutur Oke, Gubernur sangat merespon positif pembangunan sirkuit di setiap daerah.
"Beliau (Gubernur) sudah pernah bicara dengan saya dan menginginkan setiap kabupaten/kota di Jabar memiliki sirkuit sebagai upaya penyaluran hobi generasi muda dan pembinaan cabor balap motor. Dan dengan prestasi balap motor di PON XVIII ini, mudah-mudahan sirkuit tersebut bisa secepatnya terrealisasi," tegas Oke.
You might also like:
Rabu, 26 September 2012

Love & Relationship
Kenapa Cerita Cinta Membuat Wanita Depresi 




Kenapa Cerita Cinta Membuat Wanita DepresiSeringkali kita terlena saat melihat adegan cinta karakter-karakter dalam film romantis. Tak jarang kita berharap ingin merasakan apa yang dirasakan sang karakter.

Parahnya, setelah menonton, banyak orang terutama wanita yang tak bisa melepaskan diri pada pesona karakter serta cerita cinta mereka. Dan yang lebih mengkhawatirkan, terkadang wanita bahkan bisa jatuh cinta pada karakter utama dalam film atau cerita tersebut.

Mary-Lou Galician, seorang peneliti menuliskan pada bukunya bahwa hal tadi akan mempengaruhi hubungan cinta seorang wanita

"wanita yang jatuh cinta pada karakter fiksi akan sulit menjalankan hubungannya di dunia yang nyata. Ekspektasi mereka terhadap pasangan terlalu tinggi," tulis Mary pada bukunya seperti dikutip dari Female First.

Lebih lanjut Mary juga menjelaskan bahwa impian perempuan itu malah akan membuat hidupnya hancur. Keinginan untuk mendapatkan pasangan seperti karakter impiannya akan membuatnya hancur karena mengharapkan sesuatu yang tidak nyata. Yang paling parah, keinginan dan impian itu akan membuat perempuan menjadi depresi.

Harus ekstra waspada lebih awal dong jika keadaannya sudah menjurus ke arah seperti ini            

Rabu, 19 September 2012

Smadav

SmadAV adalah Antivirus lokal tak berbayar yang dikhususkan untuk mengatasi virus–virus lokal ataupun mancanegara yang menyebarluas di Indonesia.
Smadav dapat digabungkan dengan hampir semua antivirus internasional. Setelah digabungkan, Smadav akan melindungi komputer Anda dari virus lokal dan antivirus internasional tersebut yang akan melindung Anda dari virus internasional secara keseluruhan
Nama SmadAV diambil dari nama singkatan sekolah Zainuddin Nafarin, Smada (SMA 2) di Kota Palangkaraya di Kalimantan Tengah, sedangkan AV singkatan dari antivirus


Sejarah Smadav

Zainuddin Nafarin alias STC alias Zai, penemu antivirus lokal Smadav ialah murid Sekolah Menegah Umum 2 Pahandut Palangka Raya, Kalimantan Tengah kelas XI IA 1 yang menciptakan SmadAV di tahun 2006, Smadav tercipta bukan karena ia cinta almamater, tapi karena awal mulanya (secara tak sengaja) ia mengenal Visual Basic di laboratorium komputer SMAN-2 Palangkaraya pada sekitar pertengahan tahun 2006. Lalu Zainuddin Nafarin mulai mencoba untuk mempelajarinya, dan beberapa bulan setelah itu lahirlah Smadav v1.0. Tetapi karena kesibukannya dalam mengikuti Olimpiade matematika, akhirnya pengembangan SmadAV ditunda hingga diselesaikan pada tahun 2008. Smadav pertama kali diciptakan di kota Palangkaraya, tapi lokasi pengembangannya lebih banyak memakan tempat di daerah Jogjakarta dikarenakan kesibukannya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada.
Zainuddin sendiri tidak berasal dari Jawa, Zainuddin sendiri asli dari Amuntai, Kalimantan Selatan, dan ia fasih berbahasa banjar. Zainuddin tinggal di daerah pinggiran Kota Palangkaraya, tepatnya di tengah daerah hutan rawa. Tapi kini hutan itu sebagian besarnya sudah dibumihanguskan oleh api-api kebakaran hutan yang mungkin disengaja oleh manusia, hutan rindang yang dulu kini tidak terlihat lagi.
SmadAV mulai Zainuddin kembangkan sejak Oktober 2006 (waktu itu Zainuddin Nafarin masih kelas XI atau 2 SMA). Sejak ada beberapa temannya yang meminta Zainuddin agar membersihkan komputernya dari virus-virus lokal yang menjengkelkan, padahal Zainuddin sendiri juga masih cukup awam tentang virus lokal waktu itu. Ada 2 yang membuatnya jengkel disini, pertama virus lokalnya sendiri. Kedua, Zainuddin Nafarin harus datang ke rumah masing-masing teman Zainuddin Nafarin tersebut untuk “membantu” membersihkan virus lokal di komputernya secara manual. Karena hal inilah mau tidak mau harus mau agar teman Zainuddin Nafarin tetap terbantu dan Zainuddin Nafarin tidak repot lagi, sejak saat itu Zainuddin mulai mengembangkan aplikasi SmadAV.
Zainuddin Nafarin menamakannya SmadAV karena SMA Zainuddin Nafarin adalah SMAN-2 Palangkaraya, biasa dipanggil Smada. Jadi, SmadAV=Smada+AV (Smada Antivirus). Kenapa harus smada? Karena Zainuddin Nafarin baru mulai mempelajari programming sejak awal kelas XI (sejak Zainuddin Nafarin menemukan Visual Basic di lab Smada) dan bahkan Zainuddin Nafarin baru punya komputer saat pertengahan kelas X.
Zainuddin Nafarin mengembangkan SmadAV sejak Oktober 2006, hingga akhirnya berhenti di bulan Mei 2007 dan baru dimulai lagi sekarang. dikarenakan pada Mei 2007 Zainuddin akan mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Provinsi waktu itu . Dan ia berpikir untuk sementara ia harus berkonsentrasi terlebih dahulu ke Olimpiade. Tetapi karena Zainuddin (kebetulan) lolos lagi sampai tingkat Nasional, mau tidak mau Zainuddin tetap konsentrasi di Olimpiade sampai akhir Oktober 2007. Setelah Olimpiade berakhir, lagi-lagi Zainuddin masih berpikir belum memungkinkan untuk kembali mengembangkan SmadAV, dikarenakan waktu itu Zainuddin kembali harus bersiap untuk menghadapi ujian nasional (karena ia telah duduk di kelas XII). Zainuddin berpikir sejak awal, ia harus bersiap-siap untuk belajar habis-habisan, karena bukan hanya untuk menghadapi UN (yang banyaknya 6 mata pelajaran) tapi juga Tes Masuk Universitas. Setelah semuanya berakhir dan (untungnya) Zainuddin bisa diterima di UGM di Jurusan Matematika, Zainuddin Nafarin pikir saat inilah waktu yang tepat untuk mengembangkan lagi SmadAV. Walaupun sekarang Zainuddin Nafarin adalah mahasiswa dan hanyalah anak kost, Zainuddin Nafarin akan mencoba semaksimum mungkin untuk mengembangkan SmadAV.
Smadav memang sangat memerlukan biaya operasional, riset, hosting, dan banyak biaya lainnya. Jadi tidak mungkin Smadav hanya mengandalkan Smadav Free untuk terus berkembang. Smadav Pro juga bedanya tidak terlalu banyak dengan Smadav Free Zainuddin Nafarin mohon Do’a dan sedikit Donasi (Jika Anda merasa terbantu agar SmadAV terus maju.

Logo Smadav

Zainuddin Nafarin waktu itu hanya mencari objek yang paling mengagumkan yang pernah ditemukan khususnya di bidang matematika. Dan Zainuddin Nafarin putuskan impossible object ini sebagai icon Smadav karena icon ini mengagumkan walaupun sangat simple. Sedangkan warna hijau melambangkan kedamaian, itulah mengapa Smadav menggunakan warna hijau untuk semua komponennya termasuk icon ini. Smadav selalu menggunakan warna hijau karena kita Indonesia, paru-paru dunia.

Kantor Smadav

SmadAV tidak memiliki kantor resmi. SmadAV adalah hasil buah tangan karya mahasiswa Universitas Gajah Mada yang menetap di Yogyakarta. Sedangkan seluruh anggota tim merupakan sukarelawan yang berkumpul secara daring.

Forum Smadav

Forum Smadav dibuat oleh mas kambeeng tanggal 23 Maret 2009. Jadi, tanggal 23 Maret 2011 forum Smadav genap berumur 2 tahun. Tujuan awal dari didirikannya forum ini adalah untuk menyediakan pelayanan pengguna dan tanya jawab lewat forum. Forum SmadAV juga tersedia bagi pengguna yang ingin melaporkan bug, saran/kritik untuk SmadAV. Pada bulan Agustus 2011, forum SmadAV yaitu smadaver.com tercatat memiliki 69.923 pengguna terdaftar. Sumber data: Forum Smadav Statistic Center.

Server

Server luar (Internasional) memang cenderung lebih murah daripada server lokal (IIX). Khususnya untuk Shared Hosting yang sangat murah di luar negeri. Smadaver.com tidak memakai Shared Hosting, tapi memakai VPS (Virtual Private Server) yang jauh lebih mahal dan lebih stabil untuk forum yang cukup besar. Saat ini Server Smadav.net ada di daxa Rp.2.500.000,-/bulan dan Server Smadaver.com dan viruslokal.com menggunakan Virtual Private Server di Dreamhost, bayarnya antara $50-$100 per bulan atau Rp.500.000,- /bulan (Rp6.000.000 - Rp12.000.000 per tahun). Jadi bisa melayani Smadaver dengan kecepatan semaksimum mungkin.

Smadav dibuat dengan Visual Basic

SmadAV dibuat menggunakan Visual Basic, tidak menggunakan Delphi, C/C++ atau bahkan Assemby. Kenapa? Dari awal Zainuddin Nafarin sudah terlanjur fokus pada Visual Basic dan juga akan membutuhkan waktu yang cukup lama jika harus mengkonversi Source Code SmadAV (Lebih dari 10000 baris) dari Visual Basic ke bahasa pemrograman lainnya. Selain karena Zainuddin Nafarin harus mempelajari ulang bahasa pemrograman baru tersebut, Zainuddin Nafarin juga disini hanya sendiri dan tidak mempunyai waktu yang banyak untuk mengembangkan SmadAV, karena Zainuddin Nafarin juga harus memenuhi kewajiban Zainuddin Nafarin untuk kuliah dan mendapatkan IP tinggi Kelebihan menggunakan Visual Basic , SmadAV menjadi lebih mudah dan cepat untuk dikembangkan dibandingkan Bahasa Pemrograman lainnya yang lebih rumit apalagi Assembly dan juga ukuran File Exe SmadAV lebih kecil dibandingkan dengan Delphi. Kekurangannya menggunakan Visual Basic, SmadAV memerlukan file MSVBVM60.DLL yang sebenarnya memang selalu ada di sistem Platform Windows. “Jika file ini dihapus oleh virus”, otomatis SmadAV dan semua aplikasi Visual Basic lainnya tidak dapat dijalankan di komputer tersebut. Tapi, hal ini bisa diatasi dengan mendownload file MSVBVM60.DLL dan meletakkannya satu folder dengan SmadAV. Jadi tidak ada masalah. Smadav tidak pernah memakai database untuk deteksi Virus VBS, semuanya total dengan heuristik saja.

Rilis Smadav

Smadav menggunkan ribuan fungsi API, sedikit fungsi VB, sehingga lebih cepet scanning-nya. Kecepatan rata-rata scanning-nya 100 file per detik. Smadav hanya open-source untuk versi 1.7 dan 2.3. Pembagian Smadav Release, yaitu:
Revisi Kecil : rev. 8.0.0 jadi rev 8.0.1 (revisi berkala dalam hitungan hari)
Revisi Biasa : rev. 8.0 jadi rev. 8.1 (biasanya 2 minggu sekali)
Revisi Besar : rev. 8.5 jadi rev. 9.0 (biasanya 2 bulan sekali)
Kami biasanya mengetes versi beta dulu di Forum Smadav, jadi jika ada user forum yang menemukan bug atau tidak setuju dengan suatu fitur tertentu, tentu Smadav akan diperbaiki lagi. Jadi tidak benar end-user yang kami jadikan tempat test Smadav. Tentu tidak mungkin kami menemukan semua bug saat pengetesan Smadav beta di forum, jadi tidak menutup kemungkinan masih ada bug yang ada di versi release Smadav.
Kami tidak menghalangi siapapun yang ingin mengkritik Smadav, karena Smadav sangat terbuka dan masih memerlukan banyak perbaikan. Perlu dicatat juga bahwa Smadav bukanlah program komersial/profit, Smadav dibuat untuk riset dan penerapan ilmu Computer Science. Jadi, tidak ada alasan untuk kami lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri/kelompok daripada penerapan ilmu Computer Science itu sendiri. Kami lebih mendedikasikan Smadav untuk penerapan dan riset ilmu Computer Science di Indonesia.

Keamanan

Proses Smadav

Pada saat diklik Smadav mengecek secara sembunyi-sembunyi dulu (agar tidak di-kill virus) keadaan komputer Anda, jika ada virus akan langsung di-kill Smadav sebelum GUI(Tampilan) Smadav-nya muncul. Dan ini harusnya kurang dari 3 detik

Cleaning File

Kalau Smadav gagal melakukan cleaning, sebenarnya dokumennya tidak akan dihapus tapi dikarantina, jadi masih bisa mengembalikannya (undelete) di tab Quarantine. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan cleaning file dokumen gagal (sehingga harus dikarantina) :
1. File dokumen dirasuki (bergabung) dengan tubuh virus
2. File dokumen disembunyikan di tempat yang tidak bisa digapai smadav
Kalau sudah yakin semua data aman, hapus saja semua virus di karantina itu

Autorun.inf

Folder autorun.inf Smadav berfungsi untuk menangkis virus yang membuat file autorun.inf. Autorun.inf hanya dideteksi jika ada di Flashdisk/Removable disk, tidak di CD/DVD Drive. Komputer Zainuddin Nafarin sendiri sangat sering terinfeksi Conficker gara-gara Zainuddin Nafarin sering lalai dalam meneliti di Lab Smadav, Conficker sering lepas dan menginfeksi komputer Zainuddin Nafarin sendiri, tapi Conficker tetap gagal menginfeksi flashdisk dengan membuat file autorun.inf, soalnya kan sudah dikunci dengan Smad-Lock.
autorun.inf yang menjadi virus itu kemungkinan hanya menduplikasi diri agar mirip dengan semua folder di drive tersebut termasuk folder autorun.inf, jadi virusnya akan berekstensi exe bernama autorun.inf.exe Folder Recycler di Flashdisk adalah 100% Virus Conficker. Harus diperhatikan bahwa folder autorun.inf itu memiliki atribut system+hidden jadi tidak akan membuat bingung pengguna awam karena komputer di pengguna awam kebanyakan tidak menampilkan file system+hidden. Hanya komputer advanced pengguna saja yang kebanyakan menampilkan file system+hidden, dan mereka sebagian besar sudah tahu kegunaan folder autorun.inf.
Perlu diketahui, Windows 7 sudah tidak menggunakan dan mengabaikan file autorun.inf di removable disk. Sebenarnya fitur autorun.inf di removable disk sudah banyak dikritik oleh pengguna Windows XP karena sangat berbahaya dan menjadi celah yang sangat bagus bagi virus, Smadav hanya ingin memutus rantai virus yang sebagian besar di Indonesia menyebar luas lewat autorun.inf. Jadi sangat tidak direkomendasikan untuk menghapus folder autorun.inf buatan Smadav.
Sampai saat ini hampir semua virus (99%) tidak mampu menghapus folder autorun.inf Smadav.
Zainuddin Nafarin menyadari ada yang kontra dengan Smad-Lock walaupun hanya sebagian kecil saja. Tapi mohon dimengerti bahwa misi Smadav sebenarnya hanyalah untuk mengurangi secara signifikan penyebaran virus di Indonesia dan akhirnya akan kita dapatkan keamanan yang tinggi pada komputer-komputer di Indonesia, baik untuk pengguna online dan yang sebagian besar offline di Indonesia. Folder Autorun.inf tetap otomatis tapi ada konfirmasi terlebih dahulu sebelum akan ditambahkan sesaat setelah flashdisk terpasang Tidak akan ada pengguna yang bingung, Anda harus perhatikan bahwa ketika folder autorun.inf itu akan dihapus akan ada notifikasi dari windows : "This autorun.inf is LOCKED by SMADAV to protect your Flash-Disk from virus infection."
Jadi, misi Smadav sebenarnya hanyalah untuk mengurangi secara signifikan penyebaran virus di Indonesia dan akhirnya akan kita dapatkan keamanan yang tinggi pada komputer-komputer di Indonesia, baik untuk pengguna online dan yang sebagian besar offline di Indonesia.

 Smad-Lock

Folder Δ Smad-Lock Δ ini tidak bisa d-scan oleh Smadav Rev. 4 dan versi-versi sebelumnya. Ini karena path-nya mempunyai karakter Unicode yaitu Δ. Sama halnya dengan virus juga tidak bisa men-scan dan menginfeksi file-file di dalamnya, karena untuk membuat suatu program bisa memasuki folder ini programmer harus membuat kode yang mendukung karakter Unicode sehingga harus merombak ulang semua kode yang belum mendukung Unicode. Smadav 2009 Rev. 5 sudah Zainuddin Nafarin rombak ulang dan sudah mendukung Unicode. Smad-Lock hampir tidak mungkin bisa dimodifikasi oleh virus. Virus penginfeksi folder memang menduplikasi diri mirip semua folder yang ditemukannya termasuk folder autorun.inf milik Smad-Lock. Tapi virus penginfeksi folder ini tidak bisa masuk ke folder "Δ Smad-Lock Δ" Folder Smad-Lock memang hanya diperuntukkan untuk file-file yang dibuka dengan program buatan microsoft, seperti office, explorer, notepad, dll. Hanya sedikit program non-microsoft yang bisa membuka file dalam folder Smad-Lock. Smadav sudah memberikan notifikasi dan catatan yang cukup dalam folder Smad-Lock pada file Read Me. Memang ada kira-kira 5% virus lokal yang bisa masuk folder Smad-Lock, tapi hampir tidak ada yang bisa menginfeksi dokumen di dalamnya

Alasan yang sangat kuat untuk membuat fitur Smad-Lock :

  1. 90% virus (baik virus lokal ataupun virus luar) yang ada di Indonesia sekarang menyebar lewat autorun.inf ini, jadi silakan saja Anda menggunakan fitur pada file autorun.inf tapi bersiap-siaplah karena file autorun.inf Anda akan di-replace oleh virus dan Removable Disk Anda akan terinfeksi. Kalau Anda lebih mementingkan keamanan, aktifkanlah Smad-Lock (Autorun.inf), sampai saat ini hampir semua virus (99%) tidak mampu menghapus folder autorun.inf Smadav.
  2. Perlu Anda ketahui, Windows 7 sudah tidak menggunakan dan mengabaikan file autorun.inf di removable disk. Sebenarnya fitur autorun.inf di removable disk sudah banyak dikritik oleh pengguna Windows XP karena sangat berbahaya dan menjadi celah yang sangat bagus bagi virus, Smadav hanya ingin memutus rantai virus yang sebagian besar di Indonesia menyebar luas lewat autorun.inf. Jadi sangat tidak direkomendasikan untuk menghapus folder autorun.inf buatan Smadav.
  3. Smadav sudah memberikan notifikasi dan catatan yang cukup dalam folder Smad-Lock pada file Read Me. Catatan teknis yang lebih detail mungkin di Revisi berikutnya akan ditambahkan di file Read Me tersebut

Trik untuk memastikan flash-disk aman (hampir 100%) dari virus

Pertama Aktifkan Smad-Lock di flash disknya kemudian masukkan semua file/folder ke dalam folder "Δ Smad-Lock Δ" Folder Smad-Lock (Brankas Smadav) memang nanti harus dibuat secara manual lewat Tools->Smad-Lock.

 Apakah mungkin Smad-Lock ditembus virus?

Smad-Lock memang masih mungkin ditembus oleh sebagian kecil virus. Virus yang (1) secara keseluruhan atau (2) hanya sebagian fungsinya yang mendukung path UNICODE.
Untuk tipe yang pertama, yaitu virus yang secara keseluruhan mendukung UNICODE, bahkan bisa menginfeksi dokumen/file dalam folder Smad-Lock, tapi sampai sekarang saya belum ada menemukan virus seperti ini khususnya di Indonesia yang bisa menginfeksi dokumen (bukan executable), yang ada hanyalah virus asing yang bisa menginfeksi exe.
Untuk tipe virus yang kedua, hanya mempunyai sebagian fungsi yang mendukung path UNICODE, hanya akan mampu meng-copy filenya ke dalam folder Smad-Lock dan kebanyakan tidak memodifikasi file-file lainnya yang sudah ada di dalam folder Smad-Lock. Virus jenis ini mungkin bisa diperkirakan ada kurang dari 5% dari seluruh virus lokal yang menyebar di Indonesia.
Jadi, folder Smad-Lock jelas masih ada celahnya dan memang tidak mungkin 100% aman.

Smad-RTP

Smad-RTP hanya mencegah eksekusi virus dari Explorer dan flashdisk. Jadi tidak akan ada infeksi registry jika eksekusi virus berhasil dicegah. Smadav tidak otomatis melakukan scanning terhadap seluruh aktifitas file di komputer, karena inilah Smadav menjadi sangat ringan proteksinya. Jadi Smadav akan mencegah Anda mengeksekusi file virus sesaat ketika Anda membuka folder-nya lewat Explorer.

Registry

Smadav selalu bisa membersihkan registry yang dideteksinya, jika perbedaan string adalah Forbidden String dan belum bisa memperbaiki secara otomatis serta terdeteksi lagi walaupun sudah dibersihkan, kemungkinan ada infeksi virus yang selalu mengubahnya ke nilai semula.

Flashdisk

Misalnya Smadav ada di flashdisk dan terinfeksi dan pengguna membuka Smadav dari media tersebut, maka Smadav memperingkatkan bahwa berkasnya telah rusak. Tidak ada pengamanan yang 100%, tapi kita harus usahakan pengamanan terbaik yang bisa dilakukan.


Smadav
Logo-smadav.jpg
Pengembang Zainuddin Nafarin
Rilis stabil Smadav 2012 Rev. 8.9 / 1 Februari 2012; 7 bulan lalu (2012-02-01)
Sistem operasi Windows 2000, Windows XP, Windows XP x64, Windows Vista, Windows Vista x64, Windows 7, Windows 7 x64.
Jenis Antivirus
Lisensi Perangkat lunak bebas
Situs web [1]


DOWNLOAD SEGERA SOFTWARE NYA !! 

http://smadav.web.id/download/

KLIK LINK DI ATAS INI UNTUK MENDOWNLOAD NYA !!!! 

TuneUp Utilities

TuneUp Utilities adalah software utilitas suite untuk Microsoft Windows yang dirancang untuk membantu mengelola, memelihara, mengoptimalkan, mengkonfigurasi dan mengatasi masalah sistem komputer. Hal ini diproduksi dan dikembangkan oleh TuneUp Software GmbH, yang berkantor pusat di Darmstadt, Jerman dan co-didirikan oleh Tibor Schiemann dan Christoph Laumann di tahun 1997. [3] [4] Versi Amerika dari software ini didistribusikan oleh Perusahaan TuneUp, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dari TuneUp Software GmbH terletak di Miami, Florida. [1]
Pada 2011, sembilan versi TuneUp Utilities telah dirilis dan jumlah komponen termasuk telah meningkat 16-32. TuneUp Utilities telah mencapai ulasan umumnya positif, meskipun beberapa pengulas tidak menyetujui harga untuk nilai.

Fitur
TuneUp Utilities 2012, versi terbaru dari produk, terdiri dari 30 komponen yang berbeda, yang semuanya dapat diakses dari dalam hub pusat, yang disebut TuneUp Start Center. Sebagian besar komponen juga dapat dipanggil dari menu Start. TuneUp Mulai Pusat itu sendiri dapat menunjukkan komponen baik dalam tampilan kategori (standar) atau dalam tampilan daftar.Status dan rekomendasi
Status dan rumah-rumah kategori rekomendasi empat sub-bagian: 1-Click Maintenance, Optimizer Kinerja, Perbaiki Masalah dan Live Optimasi. Bagian Pemeliharaan 1-Klik menjalankan alat pemeliharaan rutin sekaligus. Pengoptimal Kinerja dan Masalah Fix utilitas dimaksudkan untuk memberikan tips untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah potensi dan meningkatkan kinerja, seperti menonaktifkan efek visual yang tidak perlu dan menonaktifkan atau menghapus layanan Windows dan program yang tidak terpakai. Optimasi hidup, menurut penulis aplikasi, dimaksudkan untuk meningkatkan respon aplikasi Windows dengan mengutak-atik prioritas eksekusi mereka.
TuneUp Utilities 2012 di modus tampilan daftar, menunjukkan semua komponen 30 nya.Sistem Optimasi
Bagian Sistem Optimalkan mencakup TuneUp Program Deactivator, yang membongkar program dari memori dan mencegah eksekusi otomatis mereka lebih lanjut, sebuah alternatif untuk menguninstall mereka. Sementara program cacat terus mengkonsumsi ruang disk, mereka tidak lagi mempengaruhi waktu startup, waktu shutdown dan kinerja sistem [5]. Komponen lain termasuk alat defragmentasi, registry cleaner, dan manajer startup untuk menggantikan msconfig.Disk cleanup
Disk space Gain bagian itu sendiri adalah disk cleanup komponen yang menggantikan Disk Cleanup Windows. Hal ini juga memberikan akses ke TuneUp Disk Space Explorer (alat analisa disk space) dan TuneUp Shredder (alat penghapusan data).Masalah alat
Perbaiki Masalah Bagian menyediakan akses ke Wizard TuneUp Repair yang memungkinkan pengguna untuk selektif memperbaiki masalah yang TuneUp Utilities tidak dapat secara otomatis mendeteksi, misalnya ikon mendapatkan rusak atau item seperti My Computer dan Recycle Bin secara permanen menghilang dari Windows Desktop.
Juga dalam kategori ini, ada TuneUp Disk Doctor. Hal ini dapat memeriksa integritas file yang tersimpan di hard disk drive dan menyelamatkan file yang rusak. Hal ini juga dapat memindai untuk cacat fisik yang dikenal sebagai bad sector dan mengisolasi mereka. TuneUp Disk Doctor adalah pengganti grafis untuk Windows CHKDSK.
Item lainnya termasuk task manager, alat sistem informasi dan alat undeletion.Jendela kustomisasi
Bagian terakhir memberikan akses ke TuneUp Styler dan TuneUp System Control. TuneUp System Control adalah sebuah program yang memungkinkan akses ke beberapa jelas atau sulit-to-mengakses pengaturan dari Microsoft Windows, mirip dengan Tweak UI. TuneUp Styler memungkinkan untuk kustomisasi antarmuka pengguna Windows dengan mengubah tampilan desktop, ikon, dan logon dan layar startup.Turbo Mode
Turbo Mode, dapat diakses dari bagian bawah Start Center, sistem memberikan dorongan kinerja oleh sementara menonaktifkan beberapa layanan Windows dan fitur pilihan pengguna, seperti tema Windows Aero dan efek visual. [5] [6]Model Ekonomis
The Economy Mode diakses dari bagian bawah Start Center, sistem memberikan lebih banyak daya baterai untuk menghemat dengan mengurangi program latar belakang dan kekuatan CPU untuk menghemat baterai.PengembanganSistem operasi yang didukung
Sistem operasi

Awal
versi

Terbaru
versi



Windows 95

97

2.003

[7]
Windows 98

97

2.007

[8]
Windows Me

2.003

2.007

[8]
Windows 2000

2.003

2.008

[9]
Windows XP dengan Service Pack 1 atau earlierA

2.003

2.008

[9]
Windows XP dengan Service Pack 2 atau Latera

2.009

2.012

[10]
Windows XP Professional x64 Edition

2.006

2.012

[10]
Windows Vista

2.007

2.012

[10]
Windows 7

2.010

2.012

[10]
Versi pertama dari perangkat lunak, TuneUp 97, dirilis pada tahun 1997. [1] Sejak itu, delapan versi telah dirilis selama bertahun-tahun [11].
TuneUp Utilities 2003 [11]

    
Versi pertama telah menjadi tersedia dalam bahasa Inggris [7] dan Perancis, [12] serta bahasa Jerman asli. Ini terdiri dari 16 alat individu diakses melalui Start Center, serta menu start Windows. Ini termasuk fitur untuk membersihkan hard disk, membersihkan dan defragment Registry Windows, mengoptimalkan Windows dan pengaturan koneksi internet dan mengubah tampilan dan nuansa dari Windows. Hal ini juga menyediakan fitur ditargetkan pada pengguna dengan tingkat menengah atau lanjutan pengetahuan komputer yang memungkinkan mereka untuk mengedit registri, mengelola proses yang berjalan, uninstall program, rusak dan hapus file, dan menampilkan informasi sistem. [13] Di samping sebelumnya- didukung Windows 95 dan Windows 98, TuneUp Utilities 2003 juga mendukung Windows 2000, Me dan Windows XP. [7]
TuneUp Utilities 2004 [11]

    
Memperkenalkan TuneUp 1-Click Maintenance dan WinStyler TuneUp (pendahulu Styler TuneUp [14].). [3] Juga termasuk dukungan defragmentasi registri untuk Windows 2000 dan XP. [9]
TuneUp Utilities 2006 [11]

    
Dalam TuneUp Utilities 2006, optimasi, kustomisasi dan disk alat pembersih mendukung Mozilla Firefox. TuneUp StartUp Manager yang menampilkan Peringkat editorial dan penjelasan tentang program terkenal yang dimulai pada startup komputer. TuneUp Styler dalam versi ini mampu mengubah logo booting Windows XP [15] [16].
TuneUp Utilities 2007 [11]

    
Fitur dua komponen baru:.. TuneUp Disk Doctor [17] dan TuneUp Disk Space Explorer [17] TuneUp Utilities 2007 juga mendukung Windows Vista [8]
TuneUp Utilities 2008 [11]

    
Menggabungkan dua komponen lagi: TuneUp Drive Defrag (alat defragmentasi) dan TuneUp Repair Wizard (alat pemecahan masalah). TuneUp Utilities 2.008 tidak lagi memiliki komponen disk yang cleanup terpisah, fungsi disk cleanup telah menjadi bagian dari Start Center, di bawah bagian disk Gain ruang baru.
TuneUp Utilities 2009 [11]

    
Mulai Center di versi ini termasuk bagian baru yang menganalisis sistem dan kemudian menampilkan status saat ini serta rekomendasi yang tersedia (jika ada) di tiga bidang:. Status Sistem pemeliharaan, Kecepatan dan Sistem [18] alat baru dalam versi ini adalah TuneUp Speed ​​Optimizer (berganti nama Optimizer StartUp dalam versi berikutnya) dan Cleaner TuneUp Shortcut. TuneUp Styler Sebuah baru dapat mengubah Windows Vista animasi logo ditampilkan selama startup. [18]
TuneUp Utilities 2010 [11]

    
TuneUp Utilities kompatibel dengan Windows 7 [19] Sebuah Turbo Mode baru yang diperkenalkan dalam versi ini memungkinkan untuk menonaktifkan fungsi latar belakang beberapa Windows dan program dengan satu klik, seperti Windows Aero, Windows Search, Windows Kesalahan Pelaporan atau sinkronisasi dengan perangkat mobile.. [ 6] Juga termasuk Optimasi TuneUp Hidup [19]. [20]
TuneUp Utilities 2011 [11]

    
Fitur TuneUp Program Deactivator, yang dapat menonaktifkan program yang memaksakan beban sistem yang signifikan, sehingga menghilangkan beban tanpa menguninstall program. Jika pengguna mencoba untuk memulai program cacat lagi, TuneUp Program Deactivator otomatis kembali memungkinkan program on the fly. [10] Sebuah Peringkat fungsi program baru dalam versi ini menunjukkan bagaimana lainnya TuneUp Utilities pengguna telah dinilai kegunaan dari program yang diberikan pada skala 1 sampai 5 [10]. The Start Center juga mencakup Status Tuning, yang melacak dan menampilkan kemajuan optimasi dan daerah menyoroti dengan potensi optimasi tersisa. [5]
TuneUp Utilities 2012 [11]

    
Fitur Economy Mode baru bahwa ketika diaktifkan, membantu menghemat daya baterai laptop

    

    
TuneUp Utilities 2011.png

    
TuneUp Utilities - Mulai Center.png

    
TuneUp Utilities 2.012 Mulai Pusat

    
Developer (s)
   

    
TuneUp Software GmbH

    
Awal rilis
   

    
1997, 15 tahun yang lalu (1997) [1]

    
Stabil rilis
   

    
2013 (13.0.2013.183) (17 September 2012, 1 hari lalu (2012/09/17)) [2] [±]

    
Sistem operasi
   

    
Windows XP, Windows Vista, Windows 7, Windows 8

    
Panggung
   

    
AMD / Intel x86 - 32bit dan x64

    
Ukuran
   

    
25,4 MB

    
Tersedia dalam
   

    
Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Belanda, Italia, Portugis, Polandia, Jepang dan Rusia [1]

    
Jenis
   

    
Utilitas perangkat lunak

    
Lisensi
   

    
Proprietary software komersial

    
Situs web
   

    
www.tune-up.com

    
TuneUp Utilities adalah software utilitas suite untuk Microsoft Windows yang dirancang untuk membantu mengelola, memelihara, mengoptimalkan, mengkonfigurasi dan

DAPATKAN SOFTWARE NYA  DI WEBSITE DI BAWAH IN!!
 www.tune-up.com
 KLIK LINK DI ATAS INI.,.,.!!!